2013年8月13日火曜日

Pentingnya Membaca Buku dan Menulis Buku Harian 10 tahun


Motivator Jepang Katsujiro Ueno berceramah

di Tzu Chi dan SMK Kansai di Pekanbaru, Riau

Pentingnya Membaca Buku dan Menulis Buku Harian 10 tahun
 


Pada tanggal 22 Januari 2013, motivator Jepang Katsujiro Ueno berceramah di depan sebanyak 450 siswa/siswi SD dan SMP Tzu Chi, Cengkareng Jakarta tentang pentingnya membaca buku keras-keras serta menulis buku harian 10 tahun yang diterbitkannya pada Maret 2012. Menurut Katsujiro Ueno, “Pertemuan dengan buku yang baik berpotensi mengubah hidup kita” dan “Menulis buku harian 10 tahun sangat penting untuk merealisasikan impian atau cita-cita seseorang mulai dari anak SD sampai orang dewasa. Katsujiro Ueno, sekjen Perkumpulan Persahabatan Indonesia Tochigi (PPIT) menegaskan “Impian adalah titik awal dari keberhasilan”, tetapi kalau tidak catat atau menulis tekadnya hal itu di buku harian, cita-cita itu sangatlah sulit untuk merealisasikannya.

Katsujiro menambahkan bahwa di dunia ini tidak ada orang yang sudah sukses tanpa membaca buku dan menulis buku harian. Kenapa hal itu terjadi? Menurutnya, dengan adanya kebiasaan membaca buku dan menulis buku harian 10 tahun, kita bisa mengenali bagian lain dari diri kita sendiri. Dalam upaya mencapai citai-cita kita, tidak boleh kita mencari cara gampangan seperti pola berpikir “Instan”. Harus kita maju ke depan selangkah demi selangkah. Tetapkan target yang kongkrit, mau jadi orang seperti apa nanti di 10 tahun mendatang? Bedanya manusia dan binantang adalah bahwa manusia punya impian dan harapan di masa depan, sedangkan binatang atau hewan tidak memilikinya. Kalau kita sebagai seorang manusia tidak memiliki impian di masa yang akan datang, hal itu berarti sama dengan binatang atau hewan” tuturnya.
 
 


Seminar pendidikan di SMK Kansai, Pekanbaru,
Riau pada tanggal 26 Januari 2013


Sementara itu, Katujiro Ueno mengambil bagian dalam acara seminar pendidikan internasioanl sebagai nara sumber dari Jepang bersama Prof. Dr. Phillip dari Amerika di gedung guru Pekanbaru pada tanggal 28 Januari 2013. Acara ini diselenggarakan oleh PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) Cabang Pekanbaru, Riau.

Katsujiro Ueno mengangkat tema “Meningkatkan Kualitas Guru, Guru yang dihormati oleh anak siswanya, orang tuanya dan masyarakat”. Dalam ceramah itu Katsujiro menggaris bawahi pentingnya meningkatkan “skill guru” yang terdiri dari tiga pilar dalam membentuk katakter guru yaitu OJT (On the Job Trainning) , Off-OJT dan SD atau Self-Development atau pengembangan diri. Tanpa upaya guru untuk mengembangkan diri dengan cara membaca lebih banyak buku, pembangunan karakter siswa-siswinya tak mungkin dikembangkan. Guru adalah harapan anak-anak. Anak-anak senang kalau dipuji keunggulannya oleh guru. Bagaimana kalau guru berusaha mencari keunggulan yang dimiliki anak didiknya. Di dunia ini tidak ada anak yang tidak merasa senang setelah dpuji gurunya.

Menyinggung masalah “guru merasa bahagia pada saat bagaimana”, Katsujiro Ueno menceritakan bahwa kalau guru Jepang merasa bahagia karena dia terjun di bidang pendidikan yang memakai otak sebagai profesinya. Kedua, saat guru melihat anak didiknya menerima sertifikat kelulusan dengan penuh rasa bangga di upacara wisda. Ketiga adalah saat menerima surat yang ditulis tangan oleh anak didiknya yang di dalam suratnya tertulis bahwa berkat bimbibinan bapak/ibu guru, saya sudah sukses. Tanpa bapak/ibu guru, keberhasilan yang saya rasakan sekarang tak mungkin terwujud. Inilah ketiga hal yang dirasakan merasa bahagia oleh guru Jepang. Bagaimana kalau guru-guru di Indonesi? Berapa banyak surat seperti itu sudah pernah diterimanya? Itulah pertanyaan Katsujiro Ueno dalam seminar pendidikan internasional tesebut.

 

0 件のコメント:

コメントを投稿