2014年3月23日日曜日

Kenangan yang tak bisa terlupakan

Hari Sabtu tanggal 22 Maret 2014 saya sempat makan malam bersama kepala sekolah SMK Kansai Pekanbaru Bapak Sudarman, Ketua PPWI Bapak Wilson Lalengke dan seorang tokoh mantan ketua DPRD Pekanbaru Bapak Yuherman Yusuf. Kemudian saya bersama Pak Wilson diajak Bapak Yusuf ke rumahnya yang luar biasa besarnya dan bersih sekali dimana saya sempat melihat bermacam-macam foto yang diambil ketika beliau sedang berkunjung ke Jepang dalam rangka program Nakasone sebagai pemimpin kempok Yourth Leader / Working Youth selama satu bulan penuh pada tahun 1984 sebagai angkatan pertama program tersebut.

Sebetulnya saya sendiri sebagai sekjen Perkumpulan Persahabatan Indonesia Tochigi atau
PPIT juga mengikuti program Nakasone tersebut. Tapi untuk angkatan pertama program
tersebut kami PPIT menerima rombongan guru dari Indonesia di Tochigi.

Berbagai topik berkaitan dengan pengalamannya di Jepang telah kita bicarakan. 
Saya yakin kesuksesan hidup beliau dilatarbelakangi adanya pengalaman yang berarti
di Jepang pada masa muda.

Kemudian hari ini tanggal 23 Maret 2014 saya sempat berbicang-bincang dengan Bapak Yuyuf sambil minum kopi hitam di hotel Rauda tempat saya menginap di Pekanbaru. Saya menceritakan pengalaman dan kegiatan saya di Indoneisa selama tiga tahun terakhir ini, 
yaitu keikutsertaan seminar pendidikan/motivasi baik untuk siswa/siswi, mahasiswa/mahasiswi termasuk juga anak-anan SD negeri maupun swasta dan sekolah rumah atau homeschooling. 

Saya sempat menjelaskan hal-hal tentang pentingnya membaca buku keras setiap hari
selama 10 menit, dan juga pentingnya menulis buku harian 10 tahun. Ketika saya jelaskan
bagaimana cara memakai atau menulis buku harian 10 tahun itu, langsung beliau berkata;
"Ini bagus sekali, saya ambil satu". Langsung beliau membayar Rp.280.000.-

Cepat sekali pengambilan keputusannya. Orang sukses selalu cepat mengambil keputusan
dalam waktu singkat. Beliau sekarang berumur 60 tahun, maka mulai malam ini beliau
mulai menulis buku harian 10 tahun itu untuk mencapai tujuan hidupnya di masa 10 tahun
mendatang yaitu saat menjelang usia 70 tahun. Dengan adanya tujuan yang nyata dan kongkrit bagi seseorang, maka orang yang bersangkutan itu bisa menjalani hidup dengan penuh harapan sambil merasakan hidup bahagia. Itulah gunanya menulis buku harian 10 tahun, bukan hanya meninggalkan kenangan-kenangannya saja tetapi juga dapat mengairahkan aktivitas sehari-hari baginya.

Dalam kunjungan saya ke Indonesia kali ini sudah tiga orang besar di Indonesia mulai
menempuh hidup baru dengan cara menulis buku harian 10 tahun sesaat sebelum tidur
setiap malam.  Mudah-mudahan para pemimpin Indonesia lainnya juga dapat memulai
menulis UD Diary for 10 years, versi bahasa Indonesia yang saya terbitkan dua tahun
yang lalu. Semoga ! Amin !








.

0 件のコメント:

コメントを投稿